Sabtu, 27 Juni 2020

ESSAY : MASALAH JERAWAT PADA WANITA PUBERTAS


Listiya Nor Hidayati


MASALAH JERAWAT PADA WANITA PUBERTAS

Listiya Nor Hidayati
Program Studi S1 Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari

ABSTRAK

Pubertas bisa sebabkan jerawat karena pada masa pubertas, terjadi perubahan kondisi pada hormon tubuh. Perubahan hormon menjadi salah satu penyebab munculnya jerawat pada permukaan kulit. Saat masa puber, aktivitas hormon testosteron dan hormon androgen di dalam tubuh meningkat. Hal ini yang menyebabkan kelenjar minyak menghasilkan sebum dalam jumlah lebih banyak dari yang dibutuhkan kulit. Jenis-jenis jerawat berdasarkan tingkat berat ringannya penyakit terbagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok jenis jerawat ringan, kelompok jenis jerawat sedang dan kelompok jenis jerawat berat atau parah. Masalah tersebut pasti membuat wanita kurang percaya diri, karena wajah adalah salah satu aset yang harus dijaga kecantikan dan keindahannya.
Kata Kunci : Jerawat, Masa Pubertas


       I.            PENDAHULUAN
            A. LATAR BELAKANG
Setiap perempuan pasti mendambakan kulit yang cantik dan sehat.  Bukan semata-mata untuk menarik lawan jenisnya, namun penampilan wanita dengan wajah yang cantik dapat menunjang kepercayaan diri yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam urusan kecantikan, wajah memegang peranan yang sangat penting. Wajah merupakan kesan pertama untuk menarik perhatian pasangan, oleh karena itu kecantikan wajah sangatlah penting bagi wanita untuk dijaga. Namun keinginan memiliki wajah yang cantik ada rintangannya. Faktor lingkungan yang buruk dapat merusak kesehatan kulit, selain faktor alami yaitu pertambahan usia. Penyakit kulit bukan merupakan penyakit yang berbahaya namun mempunyai dampak yang besar bagi para remaja baik secara fisik maupun psikologik dapat menimbulkan kecemasan dan depresi.
Salah satu yang membuat penampilan wanita kurang percaya diri adalah timbulnya jerawat. Wajah yang berjerawat akan berpengaruh pula pada perkembangan psikososial termasuk kepercayaan diri (Saragih, 2016).  Jerawat atau akne vulgaris merupakan kelainan folikuler umum yang mengenai folikel sebasea (folikel rambut) yang rentan dan paling sering ditemukan di daerah muka, leher serta badan bagian atas (Suzanne, 2001). Kligman melaporkan 15% remaja mempunyai akne klinis (akne major) dan 85% akne fisiologi (akne minor), yaitu akne yang hanya terdiri dari beberapa komedo.
Keadaan ini sering dialami oleh mereka yang berusia remaja dan dewasa muda antara 30%-60% dengan insiden tertinggi antara usia 14 dan 17 tahun untuk anak perempuan serta antara usia 16 dan 19 tahun untuk anak laki-laki. Munculnya jerawat sering terjadi pada masa pubertas, tubuh mengalami perubahan hormonal disertai peningkatan jumlah kelenjar minyak. Peningkatan produksi minyak mengakibatkan muara kelenjar tersumbat dan timbul bintil-bintil kasar pada kulit (komedo). Penyumbatan dapat pula akibat sisa kulit mati, sisa kosmetik atau kotoran pada kulit yang disebabkan oleh peningkatan hormon. Kadar hormon androgen yang disebut sebagai penyebab jerawat, sepanjang masa kehidupan perempuan, kadarnya relatif tidak turun secara drastis. Ini memungkinkan jerawat muncul dalam masa kehidupan perempuan. Hormon androgen ini berasal dari suatu mekanisme perubahan lemak, khususnya kolesterol.
Melalui proses yang kompleks dibantu oleh bermacam macam enzim, kolesterol berubah menjadi komponen androgen yang kemudian dapat terus berubah lagi menjadi komponen hormon estrogen. Kedua hormon ini, androgen dan estrogen merupakan dua hormon yang ada pada pria dan wanita. Perbedaannya hanya dalam kadar atau jumlah yang dihasilkan. Hormon androgen lebih banyak pada pria sedangkan hormon estrogen lebih banyak pada wanita. Meskipun diduga kuat hormon androgen sebagai pencetus jerawat, namun tidak selalu berarti bahwa banyak jerawat berarti hormon androgen akan meningkat. Pada pria dengan kadar testosteron cukup tinggi dalam waktu yang lama, kejadian timbulnya jerawat jarang dialami.

            B. RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan jerawat?
2.      Apa sajakah jenis-jenis jerawat?
3.      Apa penyebab terjadinya jerawat?
4.      Bagaimana cara menyembuhkan jerawat?

    II.            PEMBAHASAN
A. Pengertian
Acne vulgaris adalah suatu keadaan dimana pori-pori kulit tersumbat sehingga timbul bruntusan (bintik merah) dan abses (kantong      nanah) yang meradang dan terinfeksi pada kulit. Jerawat sering terjadi pada kulit wajah, leher dan punggung, baik laki-laki maupun perempuan (Susanto, 2013). Jerawat adalah kondisi kulit yang abnormal dikarenakan gangguan produksi dari kelenjar minyak yang berlebihan. Kelebihan produksi kelenjar minyak ini atau sebaceous gland akan menyebabkan penyumbatan pada saluran folikel rambut dan pada pori-pori kulit. Seringkali Jerawat akan menyebabkan peradangan pada kulit (kulit membengkak dan menjadi kemerah- merahan). Peradangan pada kulit ini disebabkan oleh berlebihnya produksi kelenjar minyak kulit atau sebum yang kemudian menyumbat saluran kelenjar dan membentuk komedo (whiteheads) dan seborhoea.
Jika penyumbatan yang disebabkan oleh kelenjar minyak semakin membesar maka komedo akan terbuka (blackheads) dan kemudian sering kali berinteraksi atau terkena bakteri jerawat. Jadi jerawat dengan nanah biasanya bisa dipastikan bahwa jerawat tersebut telah terinfeksi dengan bakteri. Jerawat sering kali muncul dibagian bagian tertentu tubuh para remaja, yang paling mudah terkena jerawat biasanya adalah bagian muka, dada, bagian atas lengan para remaja serta punggung. Kemunculan jerawat bisanya dimulai atau terjadi ketika masa masa pubertas atau mulai menginjak dewasa antara usia 14 sampai 19 tahun. Hal ini disebabkan oleh terjadinya perubahan hormonal pada remaja yang menginjak dewasa.

            B. Jenis-Jenis Jerawat
Sjarif M. Wasitaatmadja (1990) mengemukakan bahwa jerawat adalah gangguan kulit akibat dari kelebihan produksi kelenjar minyak yang menyebabkan terjadinya infeksi dan radang pada kulit manusia. Pengertian lain yaitu situasi dimana pori-pori kulit mengalami suatu penyumbatan yang mengakibatkan minyak yang diproduksi di dalam tubuh terhalang dan tidak bisa keluar. Jenis-jenis jerawat berdasarkan tingkat berat ringannya penyakit terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
1.  Kelompok jenis jerawat ringan yaitu berupa komedo yang terdiri dari jerawat whitehead dan blackhead.
2.   Kelompok jenis jerawat sedang terdiri dari jerawat papula dan postula.
3.  Kelompok jenis jerawat berat/parah terdiri dari jerawat nodul kista, conglobata, dan fulminans.
       Pertama, blackhead atau komedo terbuka adalah benjolan kecil berwarna hitam di permukaan kulit wajah yang sering muncul di area hidung. Komedo ini terjadi ketika pori-pori tersumbat oleh kombinasi sebum dan sel kulit mati. Blackhead tidak menimbulkan rasa sakit atau kemerahan di kulit seperti jerawat pada umumnya. Kedua, whitehead atau komedo tertutup juga merupakan jenis jerawat yang disebabkan penyumbatan pori-pori oleh minyak dan sel kulit mati. Tidak seperti komedo hitam yang hanya tersumbat sebagian, penyumbatan whitehead menutupi seluruh permukaan teratas pori. Ini menyebabkan jerawatnya akan seperti benjolan putih kecil. Whiteheads umumnya lebih susah diobati daripada blackheads karena pori-pori sudah tertutup. Ketiga, papula adalah jenis jerawat yang muncul di bawah permukaan kulit, dan jika diraba akan terasa seperti tonjolan padat yang terasa nyeri. Kulit di sekitar tonjolannya tampak bengkak kemerahan. Namun, jerawat papula tidak memiliki titik nanah pada puncaknya. Papula terjadi ketika dinding di sekitar pori-pori rusak karena peradangan parah. Kulit di sekitar pori-pori ini biasanya berwarna merah muda. Itu alasan papula sering juga disebut jenis jerawat inflamasi. Keempat, pustula adalah jenis jerawat berupa benjolan yang lebih besar dan lunak. Bagian dasarnya berwarna kemerahan, sementara puncaknya berwarna putih atau kekuningan dan tampak lebih terangkat karena terisi nanah. Pustula muncul karena bakteri yang menginfeksi sumbatan pori-pori tersebut. Pustula juga dapat terbentuk ketika dinding di sekitar pori-pori rusak. Tidak seperti papula, pustula diisi dengan nanah. Benjolan ini keluar dari kulit dan biasanya berwarna merah. Jenis jerawat ini sering memiliki kepala kuning atau putih di atasnya. Kelima, nodul terjadi ketika pori-pori yang tersumbat dan membengkak mengalami iritasi lebih lanjut dan tumbuh lebih besar. Nodul adalah jenis jerawat inflamasi yang terbentuk di bawah kulit dan bisa menimbulkan rasa sakit. Tidak seperti pustula dan papula, nodul lebih dalam di bawah kulit. Keenam jerawat conglobata, jenis jerawat ini umumnya dialami oleh laki-laki di usia remaja dan dewasa muda. Jerawat jenis ini merupakan bentuk jerawat yang parah dan melibatkan banyak nodul yang meradang. Benjolan pada jenis jerawat ini saling terhubung dengan benjolan lainnya di bawah permukaan kulit. Dan yang terakhir yaitu acne fulminans, jenis jerawat ini muncul secara mendadak dan tersebar di seluruh tubuh. Jerawat meradang ini muncul disertai gejala lain seperti demam, nyeri otot, lemas, terdapat luka atau jerawat yang mudah pecah terutama di bagian tubuh atas dan wajah, serta pembengkakan limpa dan hati. Tidak diketahui pasti apa penyebab jenis jerawat ini, namun diduga terkait tingginya hormon testosteron. Kondisi ini merupakan jenis jerawat terparah.

C. Penyebab Jerawat pada Masa Pubertas
Jerawat atau dalam bahasa medisnya acne vulgaris salah satu penyakit kulit yang sering muncul pada remaja dan dewasa. Seringkali jerawat dihubungkan dengan kondisi tubuh, baik pada saat stres karena banyak masalah, atau sebaliknya pada saat sedang sangat berbahagia. Jerawat dapat disebabkan karena faktor genetik, kosmetika, dan juga bakteri (Yuindartanto, 2009). Pada masa pubertas juga dapat mengakibatkan munculnya jerawat. Alasan pubertas bisa sebabkan jerawat karena pada masa pubertas, terjadi perubahan kondisi pada hormon tubuh. Perubahan hormon menjadi salah satu penyebab munculnya jerawat pada permukaan kulit. Saat masa puber, aktivitas hormon testosteron dan hormon androgen di dalam tubuh meningkat. Hal itu kemudian menyebabkan kelenjar minyak menghasilkan sebum dalam jumlah lebih banyak dari yang dibutuhkan kulit. Biasanya, jerawat pada remaja akan hilang dengan sendirinya pada awal usia 20 tahun (Healthline, 2019).
"Faktor utama jerawat adalah hormon androgen. Hormon ini muncul pada masa pubertas, yang dialami baru pada saat seseorang memulai masa remaja, yaitu di usia 14 tahun. Secara alami, saat pubertas hormon androgen meningkat di dalam tubuh. Hormon ini memicu kelenjar sebum untuk mengeluarkan minyak, akibatnya kulit akan menjadi lebih berminyak. Efek yang ditimbulkan adalah sel-sel kulit dan folikel rambut menjadi tersumbat. Jika saat itu kondisi kulit sedang kotor, maka akan menjadi jerawat," tutur dr Gloria Novelita, SpKK, spesialis kulit dan kelamin, dalam acara Nexcare: 'Don't Cover Your Face!', yang diadakan di ANZ Tower, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Kamis (4/7/2013).

                D. Pengobatan Jerawat
Salah satu cara pengobatan jerawat adalah dengan air perasan jeruk lemon. Menurut penelitian (Pamela, 2015) air perasan buah lemon mengandung banyak senyawa bioaktif seperti flavonoid, karotenoid, limonoid, tanin, dan terpenoid. Mekanisme aktifitas antibakteri flavonoid dan tanin yaitu dengan merusak membran sel bakteri. Flavonoid membentuk senyawa kompleks terhadap protein ekstraseluler yang dapat merusak membran sel Porphyromonas gingivalis dan diikuti dengan keluarnya senyawa intraseluler bakteri. Tanin memiliki kemampuan untuk menginaktifkan adhesin dan enzim sel Porphyromonas gingivalis serta mengganggu transport protein pada lapisan dalam sel. Tanin juga dapat menyebabkan sel Porphyromonas gingivalis menjadi lisis karena tanin memiliki target pada polipeptida dinding sel bakteri sehingga pembentukan dinding sel menjadi kurang sempurna dan kemudian sel bakteri akan mati. Mekanisme aktivitas antibakteri senyawa terpenoid belum diketahui secara pasti, namun terpenoid diketahui aktif melawan bakteri yang diduga dengan melibatkan pemecahan membran oleh komponen-komponen lipofilik.
Senyawa karotenoid dan limonoid diketahui aktif melawan bakteri namun mekanisme aktivitas antibakteri belum diketahui secara pasti. Air perasan buah lemon selain bermanfaat sebagai antibakteri juga bermanfaat sebagai antioksidan. Vitamin C merupakan kandungan utama yang terdapat pada air perasan buah lemon yang bermanfaat sebagai antioksidan. Kandungan utama air perasan buah lemon lainnya adalah asam sitrat. Asam sitrat merupakan asam organik yang terkandung paling banyak pada air perasan buah lemon. Kandungan vitamin C dan asam sitrat membuat derajat keasaman (pH) air perasan buah lemon menjadi asam. pH asam dapat mengakibatkan pH internal sel bakteri menurun sehingga dapat mengganggu aktivitas sel bakteri dan pertumbuhan bakteri menjadi terhambat.    

 III.            PENUTUP
A. Kesimpulan
Jerawat adalah gangguan kulit akibat dari kelebihan produksi kelenjar minyak yang menyebabkan terjadinya infeksi dan radang pada kulit manusia. Jenis-jenis jerawat berdasarkan tingkat berat ringannya penyakit terbagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok pertama jenis jerawat ringan yang berupa komedo, terdiri dari jerawat whitehead dan blackhead. Kelompok kedua adalah jenis jerawat sedang terdiri dari jerawat papula dan postula. Kelompok ketiga adalah jenis jerawat berat atau parah terdiri dari jerawat nodul kista, conglobata, dan fulminans.
Biasanya jerawat banyak terjadi pada masa pubertas seorang wanita. Alasan pubertas bisa sebabkan jerawat karena pada masa pubertas, terjadi perubahan kondisi pada hormon tubuh. Perubahan hormon menjadi salah satu penyebab munculnya jerawat pada permukaan kulit. Saat masa puber, aktivitas hormon testosteron dan hormon androgen di dalam tubuh meningkat. Hal itu kemudian menyebabkan kelenjar minyak menghasilkan sebum dalam jumlah lebih banyak dari yang dibutuhkan kulit. Salah satu cara mengobati jerawat adalah dengan perasan air lemon.

B. Saran
Saran kepada praktisi untuk penelitian selanjutnya, diharapkan agar lebih diteliti lagi tentang jenis-jenis jerawat yang ada, penyebab dari masing-masing jerawat, dan juga pengobatan jerawat-jerawat tersebut berdasarkan jenisnya.

REFERENSI
Berti, Pamela Lolita, dkk. 2015. Daya antibakteri air perasaan buah lemon (Citrus limon (L.) Burm.f) Porphyromonas gingivalis dominan periodontitis (in vitro). Jurnal ilmiah FKG. Universitas Muhammadiyah Surakarta:5-10.
Saragih, D, F. (2016). Hubungan tingkat kepercayaan diri dan jerawat (acne vulgaris) pada siswa-siswi kelas XII di SMA N 1 Manado. Di unduh dari http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/ebiomedik/article/vi-ew/12137(di akses tanggal 8 oktober 2016).
Susanto, R, C. & G A Made Ari M. 2013. Penyakit Kulit Dan Kelamin. Yokyakarta: Nuha Medika.
Suzanne, C. Smeltzer. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta: EGC.
Wasitaatmadja, Sjarif M. 2012. Dermatologi Kosmetik. Edisi ke-2. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Yuindartanto, A. (2009). Acne vulgaris. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Diunduh dari http:/yumizone.wordpress.com/20- 09/01/07/acne/ (di akses tanggal 10 oktober 2016)