Listiya Nor Hidayati
MASALAH JERAWAT PADA WANITA PUBERTAS
Listiya
Nor Hidayati
Program Studi S1 Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Borneo Lestari
ABSTRAK
Pubertas bisa sebabkan jerawat karena pada masa
pubertas, terjadi perubahan kondisi pada hormon tubuh. Perubahan hormon menjadi
salah satu penyebab munculnya jerawat pada permukaan kulit. Saat masa puber,
aktivitas hormon testosteron dan hormon androgen di dalam tubuh meningkat. Hal
ini yang menyebabkan kelenjar minyak menghasilkan sebum dalam jumlah lebih
banyak dari yang dibutuhkan kulit. Jenis-jenis jerawat berdasarkan tingkat
berat ringannya penyakit terbagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok jenis
jerawat ringan, kelompok jenis jerawat sedang dan kelompok jenis jerawat berat
atau parah. Masalah tersebut pasti membuat wanita kurang percaya diri, karena
wajah adalah salah satu aset yang harus dijaga kecantikan dan keindahannya.
Kata Kunci : Jerawat,
Masa Pubertas
I.
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Setiap perempuan pasti mendambakan kulit yang cantik
dan sehat. Bukan semata-mata untuk menarik lawan jenisnya, namun
penampilan wanita dengan wajah yang cantik dapat menunjang kepercayaan diri
yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dalam urusan kecantikan,
wajah memegang peranan yang sangat penting. Wajah merupakan kesan pertama untuk
menarik perhatian pasangan, oleh karena itu kecantikan wajah sangatlah penting
bagi wanita untuk dijaga. Namun keinginan
memiliki wajah yang cantik ada rintangannya. Faktor lingkungan yang buruk dapat
merusak kesehatan kulit, selain faktor alami yaitu pertambahan usia. Penyakit
kulit bukan merupakan penyakit yang berbahaya namun mempunyai dampak yang besar
bagi para remaja baik secara fisik maupun psikologik dapat menimbulkan
kecemasan dan depresi.
Salah satu yang membuat
penampilan wanita kurang percaya diri adalah timbulnya jerawat. Wajah yang berjerawat akan berpengaruh pula pada
perkembangan psikososial termasuk kepercayaan diri (Saragih, 2016). Jerawat atau akne vulgaris merupakan kelainan
folikuler umum yang mengenai folikel sebasea (folikel rambut) yang rentan dan
paling sering ditemukan di daerah muka, leher serta badan bagian atas (Suzanne, 2001). Kligman melaporkan 15% remaja
mempunyai akne klinis (akne major) dan 85% akne fisiologi (akne minor), yaitu
akne yang hanya terdiri dari beberapa komedo.
Keadaan ini sering dialami
oleh mereka yang berusia remaja dan dewasa muda antara 30%-60% dengan insiden
tertinggi antara usia 14 dan 17 tahun untuk anak perempuan serta antara usia 16
dan 19 tahun untuk anak laki-laki. Munculnya jerawat sering terjadi pada masa pubertas, tubuh mengalami
perubahan hormonal disertai peningkatan jumlah kelenjar minyak. Peningkatan
produksi minyak mengakibatkan muara kelenjar tersumbat dan timbul bintil-bintil
kasar pada kulit (komedo). Penyumbatan dapat pula akibat sisa kulit mati, sisa
kosmetik atau kotoran pada kulit yang disebabkan oleh peningkatan hormon. Kadar
hormon androgen yang disebut sebagai penyebab jerawat, sepanjang masa kehidupan
perempuan, kadarnya relatif tidak turun secara drastis. Ini memungkinkan
jerawat muncul dalam masa kehidupan perempuan. Hormon androgen ini berasal dari
suatu mekanisme perubahan lemak, khususnya kolesterol.
Melalui proses yang
kompleks dibantu oleh bermacam macam enzim, kolesterol berubah menjadi komponen
androgen yang kemudian dapat terus berubah lagi menjadi komponen hormon
estrogen. Kedua hormon ini, androgen dan estrogen merupakan dua hormon yang ada
pada pria dan wanita. Perbedaannya hanya dalam kadar atau jumlah yang
dihasilkan. Hormon androgen lebih banyak pada pria sedangkan hormon estrogen
lebih banyak pada wanita. Meskipun diduga kuat hormon androgen sebagai pencetus
jerawat, namun tidak selalu berarti bahwa banyak jerawat berarti hormon
androgen akan meningkat. Pada pria dengan kadar testosteron cukup tinggi dalam
waktu yang lama, kejadian timbulnya jerawat jarang dialami.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan jerawat?
2. Apa sajakah jenis-jenis jerawat?
3. Apa penyebab terjadinya jerawat?
4. Bagaimana cara menyembuhkan jerawat?
II.
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Acne vulgaris adalah suatu keadaan dimana pori-pori kulit
tersumbat sehingga timbul bruntusan (bintik merah) dan abses (kantong nanah) yang
meradang dan terinfeksi pada kulit. Jerawat sering terjadi pada kulit wajah,
leher dan punggung, baik laki-laki maupun perempuan (Susanto, 2013). Jerawat
adalah kondisi kulit yang abnormal dikarenakan gangguan produksi dari kelenjar
minyak yang berlebihan. Kelebihan produksi kelenjar minyak ini atau sebaceous
gland akan menyebabkan penyumbatan pada saluran folikel rambut dan pada
pori-pori kulit. Seringkali Jerawat akan menyebabkan peradangan pada kulit
(kulit membengkak dan menjadi kemerah- merahan). Peradangan pada kulit ini
disebabkan oleh berlebihnya produksi kelenjar minyak kulit atau sebum yang
kemudian menyumbat saluran kelenjar dan membentuk komedo (whiteheads) dan
seborhoea.
Jika penyumbatan yang disebabkan oleh kelenjar minyak semakin
membesar maka komedo akan terbuka (blackheads) dan kemudian sering kali
berinteraksi atau terkena bakteri jerawat. Jadi jerawat dengan nanah biasanya
bisa dipastikan bahwa jerawat tersebut telah terinfeksi dengan bakteri. Jerawat
sering kali muncul dibagian bagian tertentu tubuh para remaja, yang paling
mudah terkena jerawat biasanya adalah bagian muka, dada, bagian atas lengan
para remaja serta punggung. Kemunculan jerawat bisanya dimulai atau terjadi ketika
masa masa pubertas atau mulai menginjak dewasa antara usia 14 sampai 19 tahun.
Hal ini disebabkan oleh terjadinya perubahan hormonal pada remaja yang
menginjak dewasa.
B.
Jenis-Jenis Jerawat
Sjarif M. Wasitaatmadja (1990) mengemukakan bahwa
jerawat adalah gangguan kulit akibat dari kelebihan produksi kelenjar minyak
yang menyebabkan terjadinya infeksi dan radang pada kulit manusia. Pengertian
lain yaitu situasi dimana pori-pori kulit mengalami suatu penyumbatan yang
mengakibatkan minyak yang diproduksi di dalam tubuh terhalang dan tidak bisa
keluar. Jenis-jenis jerawat berdasarkan tingkat berat ringannya penyakit
terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
1. Kelompok jenis jerawat ringan yaitu berupa komedo yang
terdiri dari jerawat whitehead dan blackhead.
2. Kelompok jenis jerawat sedang terdiri dari jerawat
papula dan postula.
3. Kelompok jenis jerawat berat/parah terdiri dari jerawat
nodul kista, conglobata, dan fulminans.
Pertama, blackhead atau komedo
terbuka adalah benjolan kecil berwarna hitam di permukaan kulit wajah yang
sering muncul di area hidung. Komedo ini terjadi ketika pori-pori tersumbat
oleh kombinasi sebum dan sel kulit mati. Blackhead tidak menimbulkan rasa sakit
atau kemerahan di kulit seperti jerawat pada umumnya. Kedua, whitehead atau
komedo tertutup juga merupakan jenis jerawat yang disebabkan penyumbatan
pori-pori oleh minyak dan sel kulit mati. Tidak seperti komedo hitam yang hanya
tersumbat sebagian, penyumbatan whitehead menutupi seluruh permukaan teratas
pori. Ini menyebabkan jerawatnya akan seperti benjolan putih kecil. Whiteheads
umumnya lebih susah diobati daripada blackheads karena pori-pori sudah
tertutup. Ketiga, papula adalah jenis jerawat yang muncul di bawah permukaan
kulit, dan jika diraba akan terasa seperti tonjolan padat yang terasa nyeri.
Kulit di sekitar tonjolannya tampak bengkak kemerahan. Namun, jerawat papula
tidak memiliki titik nanah pada puncaknya. Papula terjadi ketika dinding di
sekitar pori-pori rusak karena peradangan parah. Kulit
di sekitar pori-pori ini biasanya berwarna merah muda. Itu alasan papula sering
juga disebut jenis jerawat inflamasi. Keempat, pustula adalah jenis jerawat
berupa benjolan yang lebih besar dan lunak. Bagian dasarnya berwarna kemerahan,
sementara puncaknya berwarna putih atau kekuningan dan tampak lebih terangkat
karena terisi nanah. Pustula muncul karena bakteri yang menginfeksi sumbatan
pori-pori tersebut. Pustula juga dapat terbentuk ketika dinding di sekitar
pori-pori rusak. Tidak seperti papula, pustula diisi dengan nanah. Benjolan ini
keluar dari kulit dan biasanya berwarna merah. Jenis jerawat ini sering
memiliki kepala kuning atau putih di atasnya. Kelima, nodul terjadi ketika
pori-pori yang tersumbat dan membengkak mengalami iritasi lebih lanjut dan
tumbuh lebih besar. Nodul adalah jenis jerawat inflamasi yang terbentuk di
bawah kulit dan bisa menimbulkan rasa sakit. Tidak seperti pustula dan papula,
nodul lebih dalam di bawah kulit. Keenam jerawat conglobata, jenis jerawat ini
umumnya dialami oleh laki-laki di usia remaja dan dewasa muda. Jerawat jenis
ini merupakan bentuk jerawat yang parah dan melibatkan banyak nodul yang
meradang. Benjolan pada jenis jerawat ini saling terhubung dengan benjolan
lainnya di bawah permukaan kulit. Dan yang terakhir yaitu acne fulminans, jenis
jerawat ini muncul secara mendadak dan tersebar di seluruh tubuh. Jerawat
meradang ini muncul disertai gejala lain seperti demam, nyeri otot, lemas,
terdapat luka atau jerawat yang mudah pecah terutama di bagian tubuh atas dan
wajah, serta pembengkakan limpa dan hati. Tidak diketahui pasti apa penyebab
jenis jerawat ini, namun diduga terkait tingginya hormon testosteron. Kondisi
ini merupakan jenis jerawat terparah.
C. Penyebab Jerawat pada Masa
Pubertas
Jerawat atau dalam bahasa medisnya acne vulgaris salah satu
penyakit kulit yang sering muncul pada remaja dan dewasa. Seringkali jerawat
dihubungkan dengan kondisi tubuh, baik pada saat stres karena banyak masalah,
atau sebaliknya pada saat sedang sangat berbahagia. Jerawat dapat disebabkan
karena faktor genetik, kosmetika, dan juga bakteri (Yuindartanto, 2009). Pada
masa pubertas juga dapat mengakibatkan munculnya jerawat. Alasan pubertas bisa
sebabkan jerawat karena pada masa pubertas, terjadi perubahan kondisi pada
hormon tubuh. Perubahan hormon menjadi salah satu penyebab munculnya jerawat
pada permukaan kulit. Saat masa puber, aktivitas hormon testosteron dan hormon
androgen di dalam tubuh meningkat. Hal itu kemudian menyebabkan kelenjar minyak
menghasilkan sebum dalam jumlah lebih banyak dari yang dibutuhkan kulit.
Biasanya, jerawat pada remaja akan hilang dengan sendirinya pada awal usia 20
tahun (Healthline, 2019).
"Faktor utama jerawat adalah hormon androgen. Hormon ini
muncul pada masa pubertas, yang dialami baru pada saat seseorang memulai masa
remaja, yaitu di usia 14 tahun. Secara alami, saat pubertas hormon androgen
meningkat di dalam tubuh. Hormon ini memicu kelenjar sebum untuk mengeluarkan
minyak, akibatnya kulit akan menjadi lebih berminyak. Efek yang ditimbulkan
adalah sel-sel kulit dan folikel rambut menjadi tersumbat. Jika saat itu
kondisi kulit sedang kotor, maka akan menjadi jerawat," tutur dr Gloria
Novelita, SpKK, spesialis kulit dan kelamin, dalam acara Nexcare: 'Don't Cover
Your Face!', yang diadakan di ANZ Tower, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Kamis
(4/7/2013).
D.
Pengobatan Jerawat
Salah satu cara pengobatan jerawat adalah dengan air
perasan jeruk lemon. Menurut penelitian (Pamela, 2015) air perasan buah lemon
mengandung banyak senyawa bioaktif seperti flavonoid, karotenoid, limonoid,
tanin, dan terpenoid. Mekanisme aktifitas antibakteri flavonoid dan tanin yaitu
dengan merusak membran sel bakteri. Flavonoid membentuk senyawa kompleks
terhadap protein ekstraseluler yang dapat merusak membran sel Porphyromonas
gingivalis dan diikuti dengan keluarnya senyawa intraseluler bakteri. Tanin
memiliki kemampuan untuk menginaktifkan adhesin dan enzim sel Porphyromonas
gingivalis serta mengganggu transport protein pada lapisan dalam sel. Tanin
juga dapat menyebabkan sel Porphyromonas gingivalis menjadi lisis karena tanin
memiliki target pada polipeptida dinding sel bakteri sehingga pembentukan
dinding sel menjadi kurang sempurna dan kemudian sel bakteri akan mati.
Mekanisme aktivitas antibakteri senyawa terpenoid belum diketahui secara pasti,
namun terpenoid diketahui aktif melawan bakteri yang diduga dengan melibatkan
pemecahan membran oleh komponen-komponen lipofilik.
Senyawa karotenoid dan limonoid diketahui aktif
melawan bakteri namun mekanisme aktivitas antibakteri belum diketahui secara
pasti. Air perasan buah lemon selain bermanfaat sebagai antibakteri juga
bermanfaat sebagai antioksidan. Vitamin C merupakan kandungan utama yang
terdapat pada air perasan buah lemon yang bermanfaat sebagai antioksidan.
Kandungan utama air perasan buah lemon lainnya adalah asam sitrat. Asam sitrat
merupakan asam organik yang terkandung paling banyak pada air perasan buah
lemon. Kandungan vitamin C dan asam sitrat membuat derajat keasaman (pH) air
perasan buah lemon menjadi asam. pH asam dapat mengakibatkan pH internal sel
bakteri menurun sehingga dapat mengganggu aktivitas sel bakteri dan pertumbuhan
bakteri menjadi terhambat.
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Jerawat adalah gangguan kulit akibat dari kelebihan produksi
kelenjar minyak yang menyebabkan terjadinya infeksi dan radang pada kulit
manusia. Jenis-jenis jerawat berdasarkan tingkat berat ringannya penyakit
terbagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok pertama jenis jerawat ringan yang
berupa komedo, terdiri dari jerawat whitehead dan blackhead. Kelompok kedua
adalah jenis jerawat sedang terdiri dari jerawat papula dan postula. Kelompok
ketiga adalah jenis jerawat berat atau parah terdiri dari jerawat nodul kista,
conglobata, dan fulminans.
Biasanya jerawat banyak terjadi pada masa pubertas seorang
wanita. Alasan pubertas bisa sebabkan jerawat karena pada masa pubertas,
terjadi perubahan kondisi pada hormon tubuh. Perubahan hormon menjadi salah
satu penyebab munculnya jerawat pada permukaan kulit. Saat masa puber,
aktivitas hormon testosteron dan hormon androgen di dalam tubuh meningkat. Hal
itu kemudian menyebabkan kelenjar minyak menghasilkan sebum dalam jumlah lebih
banyak dari yang dibutuhkan kulit. Salah satu cara mengobati jerawat adalah
dengan perasan air lemon.
B. Saran
Saran kepada praktisi untuk penelitian selanjutnya,
diharapkan agar lebih diteliti lagi tentang jenis-jenis jerawat yang ada,
penyebab dari masing-masing jerawat, dan juga pengobatan jerawat-jerawat
tersebut berdasarkan jenisnya.
REFERENSI
Berti,
Pamela Lolita, dkk. 2015. Daya antibakteri air perasaan buah lemon (Citrus
limon (L.) Burm.f) Porphyromonas gingivalis dominan periodontitis (in vitro). Jurnal ilmiah FKG. Universitas
Muhammadiyah Surakarta:5-10.
Saragih,
D, F. (2016). Hubungan tingkat
kepercayaan diri dan jerawat (acne vulgaris) pada siswa-siswi kelas XII di SMA
N 1 Manado. Di unduh dari http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/ebiomedik/article/vi-ew/12137(di akses tanggal
8 oktober 2016).
Susanto,
R, C. & G A Made Ari M. 2013. Penyakit
Kulit Dan Kelamin. Yokyakarta: Nuha Medika.
Suzanne, C.
Smeltzer. 2001. Keperawatan Medikal Bedah
Edisi 8. Jakarta: EGC.
Wasitaatmadja,
Sjarif M. 2012. Dermatologi Kosmetik.
Edisi ke-2. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Yuindartanto,
A. (2009). Acne vulgaris. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Diunduh dari http:/yumizone.wordpress.com/20-
09/01/07/acne/ (di akses tanggal 10 oktober 2016)